Translate

Selasa, 26 Agustus 2014

Surat Cinta untuk Tuan

Cinta... 
tak ada yg paling benar menggambarkannya...
cinta...
tak ada yang paling senang melupakannya...
cinta tuan bisa benar dan senang ?

cinta ...
tak perlu alasan untuk menghadirkannya...
cinta ...
tak perlu hadir jika ingin merasakanya
cinta tuan ada alasan untuk menghadirkannya?

Cinta...
tak perlu waktu lama utk membuainya
Cinta...
tak perlu surat untuk mengisahkannya
Cinta tuan perlu waktu dan surat untuk melengkapinya?

Cinta...
semula senang tapi harus sigap untuk tak menang
Cinta...
berakhir duka walau tlah banyak menutupi luka
Cinta Tuan siap untuk tak menang dan luka?

Cinta Tuan tak harus tau kapan datangnya dan tau waktu akhirnya...
Bukankah Tuan memang punya Cinta yang hakiki dalam lubuk hati?

Cinta tuan tak sampai ke seluruh negeri saat ini bila Tuan tak setiakan hati...
setia hati dan amanah pada anak negeri...
Cinta Tuan masih Hakiki?

Cinta terlanjur jadi bahasan masa kini..tapi Tuan yang harus jujur pada isi hati karna Cinta pasti soal hati...

cinta sampai mati... Tuan pasti pun mati... tapi apa tuan punya cinta untuk kami ?
kami yang tlah menaruh cinta untuk negeri pada Tuan pemilik hati...

Semoga Tuan... masih berhati dan tuan Punya cinta yang bisa di pertanggubg jawabkan nanti setelah mati pada  Sang ilahi..


Kamis, 21 Agustus 2014

Untuk Apa?

Untuk apa tuan pintar? 
jika tuan tak gemetar jika melihat anak diseberang masih meminta-minta? 
Untuk apa tuan Pintar? 
jika tuan tak seperti halilintar yang mengejutkan dan membangunkan bahwa sadar tidak harus pudar..
buat apa tuan sadar?
jika tuan tak bisa sabar pada kabar kalau tuan harus dicecar
buat apa tuan ?
buat apa tuan gagah?
bila hanya kekuasaan yang tuan sembah? 
bukankah hanya Tuhan yang wajib kita sembah jika kita ingin bermarwah?

Untuk apa tuan kaya?
jika tuan tak berdaya melihat saudara kita yang terluntalunta..
bukankah hakikat kaya untuk saling berbagi dan surga telah menanti?

Tuan.... untuk apa tuan?

pintar.. gagah..berkuasa dan kaya adalah suatu titipan?
pintar..gagah.. berkuasa dan kaya memang sebuah keharusan..tapi bukankah kita adalah hamba?
hamba yang hanya setara di mata-NYA... kita semua setara... 
tak ada yang beda bila kita telah berada di liang sempit yg kita sebut kubur..
tak takutkah kita menjadi kufur disepanjang umur yang kita sendiri tak tahu kapan berujung?

Untuk apa kita takut?
bila kita masih akut dengan semua keduniawian? 
bukankah Tuhan Sang Maha adil telah menciptakan dunia & akhirat sebagai tempat siapa yg hebat beriman dan siapa yang laknat? 

Tuan...
ada beribu pertanyaan "untuk apa?"
tapi mungkin cermin yang paling tak jujur menilai untuk apa kita ada! 
jika tuan kembali bertanya " Tahu apa saudara?"
maka Tuhan Tidak pernah sengaja menciptakan kita ada di dunia

yang pastinya... 
" Kita harus Berguna"
"Untuk Apa?"

Rabu, 20 Agustus 2014


Meniti Diri
Selembar perasaan jiwa kulayangkan untukmu
Cairan cairan hati rindu mengalir lengkung untukmu

Garis garis kehidupan selalu ada bila kau tahu ..tahu bahwa aku menyayangimu

Racun di hatimu membuatku pergi, hilang, raip ditelan
Entah apa yang menelan hinggakan aku tertelan gumpalan duri di hati

Resapi satu demi Satu semuanya dan akhirnya habis oleh mu

Hembusan cinta yang kucari akhirnya kutemukan
Hembusan rindu yang ku mau akhirnya lari padaku
Semuanya tercapai di benakku sebelum semua kau tuju
Perlahan demi perlahan kian mendekat di jiwaku

Jiwa, benak, hati dan diri
Semua terkekang, terbelenggu setelah semua itu di atas
Terjawab dan sampai di sini

Perasaanmu dan perasaanku hancur terberai disitu
Emosiku dan emosimu pecah antara nadi rindu
Kepedihan membuat luluh
Luluh dan naïf
Itu karena adanya pecahnya perasaanmu

Ingin hati ini  mencari tonggak untuk berdiri kembali
Tapi perasaan inilah yang selalu mempercundangi keinginan dalam meniti

Semakin aku meniti
Semakin perih yang ada
Sebelum aku meniti
Emosi diri tak kunjung sadarkan diri… diri yang tak berujung
Berujung gelombang hati yang tak sanggup pecahkan iri
Iri yang tak berhenti kepada hati yang dicintai

Sampai saat ini  atau nanti
Entah apa yang kutiti
Menyepi diantara sudut hati bersimpang sepi, tapi masih terkorban biarpun bekorban

Hingga apa yang terbeban hilang dari ingatan, dan apa yang kutiti kembali menari

Hujan ini untuk kita

Hujan ini untuk kita

Awan mendung itu mulai tiba
Tak kira panas atau sejuk
Seperti kita yang terus melangkah
Tak henti lelah demi nafkah

Angin  menderu dibalik dedaunan
Mentari pun tak kalah gagahnya
Namun bisa apa bila Hujan telah ada di singasananya
Tak perlu gemuruh tuk menjarah indah

Hujan…
Tak semua suka… tetiba saja datang dan tetiba saja bisa pergi
Kadang musuh dan kadang teman
Layak manusia yang tak ada iman… bisa kawan bisa lawan
Hujan…
Adalah anugrah.. jua Rahmat
Bukan kah harus disyukuri bukan dimaki?
Ada rindu, ada sendu, ada haru
Bukan ada malu dan sembilu

Tak salah bila Hujan memang untuk kita
Tatkala hujan menjadi penyejuk diantara lara
Tatkala hujan menjadi pertanda bahwa kuasa-NYA begitu sempurna
Hanya kita yang memandang hujan tak seindah Yang ingin di sampaikan-NYA

Karena hujan mungkin tak bisa berkata… “sadarlah bahwa ia untuk kita”